Monitoring dan Evaluasi Penanganan Daerah Rawan Pangan

Penulis 20 Mei 2021 Kab. Barito Kuala

Banjir di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2021 berlangsung selama tiga minggu. Banjir merendam wilayah Barito Kuala. Kawasan pertanian dan agropolitan banyak mengalami kerusakan.  Barito Kuala merupakan wilayah sentra pertanian padi dan jeruk di Kalimantan Selatan. Ketinggian air mencapai satu meter diperkirakan merusak ribuan hektare tanaman pertanian dan hortikultura.

Kawasan ini juga dicanangkan sebagai kawasan penopang program nasional Food Estate dan pengembangan pertanian lahan rawa. Menurut Kepala BPBD Kabupaten Barito Kuala, Sumarno, mengatakan banjir merendam puluhan desa di delapan kecamatan. Yakni Jejangkit, Mandastana, Kuripan, Tabukan, Bakumpai, Alalak, Rantau Badauh dan Handil Bakti. Tercatat ada 18.862 keluarga atau 54.199 jiwa terdampak bencana banjir di Barito Kuala.

Penanganan rawan pangan dilakukan pertama melalui pencegahan kerawanan pangan untuk menghindari terjadinya rawan pangan disuatu wilayah sedini mungkin dan kedua melakukan penanggulangan kerawanan pangan pada daerah yang rawan kronis melalui program-program sehingga rawan pangan di wilayah tersebut dapat tertangani, dan penanggulangan daerah rawan transien melalui bantuan sosial.

Penanggulangan Kerawanan Pangan, antara lain :

  1. Melakukan pemberdayaan masyarakat/petani melalui Pembinaan pada masyarakat, khususnya kelompok tani untuk tidak melakukan sistem ijon, sedapat mungkin hasil produksi padi dapat kelola sendiri oleh petani dari panen dan pengelolaan pasca panen, untuk menambah pendapatan petani dan sebagai stok pangan di rumah tangga petani.
  2. Mengupayakan permintaan permohonan kepada Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian untuk memberikan bantuan terhadap Kabupaten dalam upaya Penanganan Kerawanan Pangan akibat banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas